Duta Belia Indonesia mencari Persahabatan dan Pengertian di Australia

>> Selasa, 25 Agustus 2009

Sebuah delegasi beranggotakan 80 pemuda dan pelajar berbakat dari berbagai daerah di Indonesia akan bertolak ke Australia besok (25 Agustus 2009) sebagai bagian dari Program Duta Belia Departemen Luar Negeri RI.

Para peserta program yang berlangsung dari 25-29 Agustus 2009 itu akan dibagi menjadi tiga kelompok pelajar yang masing-masing akan berkunjung ke Melbourne, Sydney atau Perth, dan program ini dimaksudkan untuk memperkukuh pemahaman dan hubungan antar rakyat kedua negara.

Duta Besar Australia untuk Indonesia, Bill Farmer, menyambut baik kunjungan tersebut dan berharap hal tersebut akan memperkenalkan warga Australia dengan pemuda Indonesia yang berprestasi, bercita-cita dan dinamis, sementara menawarkan pemimpin masa depan Indonesia ini suatu perkenalan tentang keanekaragaman Australia kontemporer dan banyaknya kesamaan antara kedua negara.

“Secara pribadi saya mengucapkan selamat kepada 80 pelajar berbakat yang berusia antara 16-18 tahun yang telah terpilih untuk ambil bagian berdasarkan nilai akademis yang istimewa dan partisipasi dalam Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka),” tutur Dubes Farmer.

“Saya juga mengucapkan selamat kepada Departemen Luar Negeri RI atas prakarsa ini dan menyatakan kegembiraan kami bahwa program kunjungan tahun ini adalah ke Australia.”

“Saya berharap kunjungan ini akan memungkinkan mereka untuk mengembangkan persahabatan sepanjang hayat dan memberi mereka kesempatan untuk makin meningkatkan hubungan bilateral antar-warga, khususnya dengan pemuda Australia,” ujar Dubes.

“Hubungan antar-warga antara Indonesia dan Australia mempunyai sejarah panjang, yang sudah terjadi sebelum pemukinan Eropa di Australia dan terus berlangsung hingga kini. Penduduk keturunan Indonesia sebanyak 50.970 di Australia telah membuat sumbangsih besar terhadap keberhasilan Australia kontemporer yang majemuk.”

Penguatan hubungan antar-warga seperti itu adalah salah satu tujuan konferensi bilateral yang berhasil, Australia dan Indonesia: Mitra di Era Baru, yang diselenggarakan di Sydney pada Februari tahun ini.

Siaran Media, 24 Agustus 2009

Read more...

Pendaftaran Untuk Australian Development Scholarships 2010 Ditutup 4 September 2009

>> Rabu, 05 Agustus 2009

Warga Indonesia yang ingin turut membentuk masa depan negara diundang mengikuti pendaftaran Australian Development Scholarships 2010. Pendaftaran berakhir tanggal 4 September 2009.

Program beasiswa senilai AUD$ 40 juta (Rp 300 milliar) ini menawarkan kesempatan pada warga Indonesia untuk meraih gelar Master atau Doktor di universitas Australia dalam bidang studi yang signifikan bagi pembangunan ekonomi, sosial, dan masyarakat di Indonesia.

Duta Besar Australia untuk Indonesia, Bill Farmer mengatakan bahwa beasiswa ini memberikan kesempatan pada warga Indonesia untuk meningkatkan pendidikan mereka dan membangun jaringan yang signifikan di Australia.

“Pengalaman akademis dan pribadi yang didapat melalui beasiswa ini akan memperlengkapi mereka dengan keterampilan dan pengetahuan untuk mendorong perubahan dan mempengaruhi hasil pembangunan Indonesia sekembalinya mereka ke tanah air.”, kata Farmer.

“Beasiswa ini bertujuan untuk memperkuat sumberdaya manusia dan pertumbuhan di Indonesia dan merupakan contoh yang bagus mengenai bagaimana kedua negara bekerja sama membangun hubungan antar manusia yang signifikan.”

Beasiswa ini ditujukan untuk mereka yang mempelajari bidang manajemen ekonomi, good governance, pendidikan, demokrasi, keadilan, serta keselamatan dan kedamaian. Bidang-bidang studi yang ditawarkan tersebut ditinjau tiap tahun berdasarkan kebutuhan pembangunan Indonesia.

Setidaknya separuh dari 300 beasiswa dialokasikan untuk wanita dan hingga 30 persen diberikan pada pelamar dari provinsi-provinsi yang menjadi target, termasuk Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Papua, Papua Barat, dan Aceh.

Australia menyediakan hingga 300 beasiswa pasca-sarjana setiap tahun bagi warga Indonesia untuk mendapatkan pendidikan pasca sarjana serta merasakan cara hidup di Australia dan berbagi mengenai kekayaan warisan budaya Indonesia dengan Australia.

Pendaftaran untuk tahun penerimaan 2010 ditutup 4 September 2009. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi www.adsindonesia.or.id atau www.australianscholarships.gov.au


Siaran Media Kedutaan Besar Australia, 15 Juni 2009.

Read more...

Berbagi dan Belajar: Australia dan Indonesia Menyelenggarakan Lokakarya Kawasan tentang Tanggap Bencana

Australia bekerjasama dengan pihak berwenang manajemen darurat Indonesia Rabu, 5 Agustus 2009, meluncurkan lokakarya empat hari di Yogyakareta tentang penilaian kerusakan ekonomi pada bencana besar kawasan.

“Indonesia dan Australia telah bekerjasama secara erat untuk saling mendukung pada beberapa tahun terakhir untuk memberikan tanggapan terhadap bencana alam, termasuk di Aceh, Yogyakarta, dan selama kebakaran hutan di Victoria,” ujar Duta Besar Australia untuk Indonesia Bill Farmer. “Dengan bersama-sama menyelenggarakan lokakarya ini, Australia dan Indonesia dapat memanfaatkan pengalaman kerja tersebut untuk membangun pendekatan kawasan yang lebih erat,” katanya lagi.

Menyusul bencana gempa bumi yang merusak di Provinsi Sichuan di Cina tahun lalu, Perdana Menteri Australia Kevin Rudd dan Presiden RI Susilo bambang Yudhoyono bertekad untuk memperdalam upaya bersama untuk memperkukuh kesiapan bencana dan kemampuan manajemen kawasan.

Kedua pemimpin saat itu sepakat bahwa Australia dan Indonesia akan menyelenggarakan lokakarya APEC tentang teknik penilaian kerusakan untuk menyelaraskan berbagai upaya di 21 ekonomi utama kawasan Asia-Pacific.

“Di seluruh kawasan, proses untuk melakukan penilaian sifat dan tingkat kerusakan yang disebabkan oleh bencana tidaks eragam. Hal ini berpotensi memperlambat dan memperlemah pemberian bantuan bencana yang terarah dan berarti. Peningkatan pengetahuan tentang sistem penilaian kerusakan akan memfasilitasi dan mempercepat komunikasi dan tanggapan di antara para penerima bantuan dan ekonomi pemberi bantuan beberapa saat pasca bencana,” tutur Farmer.

Guna mencapai hal ini, Departemen Kejaksaan Agung Australia, yang bertanggunjawab atas kesiapan dan manajemend arurat di Australia, dan Badan Nasional penanggulangan Bencana (BNPB) RI bersama-sama menyelenggarakan lokakarya bagi para pejabat tanggap darurat kawasan di Yogyakarta pada 3-6 Agustus 2009.

Pada akhir lokakarya ini, para peserta akan mengembangkan pertimbangan ekonomi-ekonomi APEC:

1. Satu bahasa teknik dan kebijakan penilaian kerusakan pasca bencana, termasuk definisi dan ruang lingkup ‘penilaian kerusakan pasca bencana’
2. Peningkatan kompetensi dan keterampilan untuk melakukan analisa ekonomi pasca bencana
3. Panduan praktik untuk pelaksanaan penilaian kerusakan pasca bencana


Lokakarya ini sangat penting bagi pengembangan kemampuan kawasan untuk memberikan tanggapan atas bencana - semakin tepat penilaian kita terhadap kerusakan tersebut, semakin baik kita mengarahkan sumber daya kita,” tukas Farmer.

Siaran Media Kedutaan Besar Australia, 3 Agustus 2009.


Read more...

Seminar Pengendalian Mutu di Kedutaan Besar Australia Membantu Menjembatani Lembaga Pendidikan Australia dan Indonesia

>> Rabu, 29 Juli 2009

Pada Rabu 29 Juli 2009, Kedutaan Besar Australia Jakarta menjadi tuan rumah seminar pengendalian mutu bagi lembaga pendidikan tinggi yang diselenggarakan oleh Bagian Pendidikan. Lebih dari 80 perwakilan dari institusi pendidikan di Indonesia turut serta dalam seminar dan diskusi panel tersebut.


Seminar ini diselenggarakan sebagai kelanjutan dari Nota Kesepahaman yang telah ditandatangani pada November 2008 oleh Wakil Perdana Menteri Australia yang sekaligus sebagai Menteri Pendidikan Australia, Julia Gillard, dan Menteri Pendidikan Indonesia, Bambang Sudibyo. Dewasa ini, departemen Pendidikan dari kedua negara telah membangun dan meningkatkan kemitraan yang lebih intensif, terutama di sektor Pendidikan Tinggi.

Dalam sambutannya, Duta Besar Australia untuk Indonesia, Bill Farmer, mengatakan bahwa seminar ini “memberi kesempatan untuk berdiskusi dan berbagi informasi bagi para ahli pendidikan, rekan sejawat dan sahabat dari Australia dan Indonesia tentang masalah pengendalian mutu di lembaga mereka masing-masing.”

Pembicara pertama, Robert Carmichael, Direktur Audit dari Australian Universities Quality Agency (AUQA), menyampaikan presentasi tentang metode terkini yang digunakan untuk mengaudit lembaga-lembaga pendidikan tinggi Australia.

Dalam presentasinya, Carmichael menerangkan tentang prinsip dan pendekatan yang digunakan dalam sistem pengendalian mutu pendidikan yang diterapkan oleh badan yang berwenang dalam pendidikan tinggi di Australia.

AUQA adalah sebuah badan nasional nirlaba independen yang bertugas untuk membantu, mengaudit dan melaporkan pengendalian mutu lembaga-lembaga pendidikan tinggi di Australia. Badan ini bersifat independen dan bekerja di bawah pimpinan Dewan Direktur.

Pembicara kedua adalah Prof. Dr. Johannes Gunawan, Sekertaris Dewan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Indonesia, yang juga Ketua Tim Nasional Indonesia untuk Sistem Pengendalian Mutu Pendidikan. Beliau memberikan presentasi tentang syarat-syarat yang diperlukan untuk mengimplementasikan kerangka pengendalian mutu oleh lembaga-lembaga pendidikan tinggi di Indonesia.

Prof. Gunawan menjelaskan kepada para peserta seminar bahwa pengendalian mutu untuk Standar Nasional Pendidikan (SNP) harus diterapkan dan digalakkan dari dalam organisasi sendiri sebagai bagian dari prosedur standar pengendalian mutu masing-masing organisasi tersebut dengan tidak menutup kemungkinan adanya kerjasama dengan pihak luar.


Siaran Media Kedutaan Besar Australia, 29 Juli 2009

Read more...

Trade Official Killed in Jakarta Bombing

>> Sabtu, 18 Juli 2009

It is with profound sadness that we have today received official confirmation of the death of Craig Senger, a Trade Commissioner with Austrade, as a result of the attacks in Jakarta on Friday, 17 July 2009.

On behalf of the Australian Government, I wish to convey our deepest condolences to Craig’s wife and family. Our thoughts are with you during this time of terrible loss.

Australian officials are working with Craig’s wife and family to provide them with support and help make appropriate arrangements.

Mr Senger joined Austrade 11 years ago, and was posted to Jakarta in 2008 where he took up the role of Trade Commissioner, attached to the Australian Embassy. In this role, he served the Australian people by promoting our international business interests. At the time of his death, Craig was attending a high-level business meeting in the JW Marriott Hotel.

At this time, we also remember Garth McEvoy and Nathan Verity, the two other Australians who were killed, as well as many from other nationalities who died or were injured in these cowardly attacks. I convey our heartfelt sympathies to their families as well.

The Australian Government takes the safety and security of Australian citizens and officials very seriously as they are exposed to an increasingly complex and uncertain environment.

Following earlier attacks, we undertook an extensive upgrade of our security arrangements in Jakarta, and we will again review our security practices to make certain that everything possible is being done to ensure the safety of our officials who are representing Australia’s interests overseas.

Indonesia continues to be an important commercial partner for Australia and the Australian Government remains committed to growing our trade and investment links.

We will continue to provide businesses with advice on how to better understand and manage their risks and help maintain the safety of Australians as they conduct their business overseas because this is in the long-term interest of our country.

The Australian Government wishes to thank the Indonesian authorities for their cooperation and assistance in these difficult circumstances.

Read more...

Addie MS dan Twilite Orchestra Pentas di Gedung Opera Sydney Australia

>> Kamis, 16 Juli 2009

Duta Besar Australia untuk Indonesia, Bill Farmer, dengan gembira melepas Addie MS dan Twilite Orchestra pada konser pra-keberangkatan malam ini di Djakarta Theatre. Twilite Orchestra bertolak ke Australia untuk tampil di Gedung Opera Sydney pada Selasa, 21 Juli 2009.

Pagelaran perdana di Sydney “Indonesia – A Touch of Harmony” akan menghadirkan musik dan budaya Indonesia dalam bentuk musik simponi Barat. Pagelaran ini akan mempersembahkan lagu-lagu tradisional Indonesia, karya komponis Indonesia dan karya Colin McPhee yang bertema Bali “Tabuh Tabuhan”.

Pentas Sydney ini juga akan menyuguhkan kerja sama antara musisi dan penyanyi Australia dan Indonesia termasuk pentas oleh soprano Indonesia Binu D Sukaman, pianis Indonesia Levi Gunardi dan Johannes Sebastian Nugroho, penyanyi jazz Utha Likumahuwa dan Twilite Chorus. Pihak Australia akan menyuguhkan tenor Australia Stephen Smith, bintang Idol Australia Jessica Mauboy dan Paduan Suara Masyarakat Katolik Indonesia di Sydney.

“Konser ini akan menjadi kesempatan yang menarik bagi penduduk Sydney untuk menikmati secara langsung bakat dan kreativitas dunia musik klasik Indonesia. Ini juga merupakan ilustrasi yang hebat tentang hubungan kebudayaan yang kukuh antara Australia dan Indonesia”, tutur Farmer.

Pagelaran ini didukung oleh Pemerintah Australia melalui Lembaga Australia Indonesia (AII) dan dihadirkan oleh Departemen Kebudayaan and Pariwisata RI dan Konsulat Jenderal RI di Sydney.

Kunjungan ini merupakan salah satu program kebudayaan yang telah didanai oleh AII tahun ini. Didirikan pada 1989, AII telah memainkan peran yang unik dan vital dalam mempromosikan hubungan antar-warga secara bilateral, khususnya melalui program kebudayaan dan kesenian.

“Kerja sama yang erat dalam bidang kebudayaan hanyalah salah satu cara praktis yang semestinya dilakukan oleh tetangga dekat”, ujar Farmer.

Read more...

Pekan NAIDOC: Merayakan Kebudayaan Penduduk Asli Australia

>> Rabu, 08 Juli 2009

Kedutaan Besar Australia dengan bangga mengumumkan perayaan Pekan NAIDOC (Komite Nasional Hari Aborigin dan Kepulauan) sejak 5-12 Juli 2009.

Pekan NAIDOC diadakan pada bulan Juli setiap tahunnya, sebagai cara untuk mempromosikan pemahaman yang lebih luas mengenai masyarakat dan kebudayaan Aborigin dan Kepulauan Selat Torres dan untuk merayakan bertahannya kebudayaan penduduk asli Australia dan kontribusinya bagi Australia yang modern.

Tema Pekan NAIDOC 2009 adalah ‘Menghormati Para Tetua Kita, Mengayomi Generasi Muda Kita” yang bertujuan untuk mendorong masyarakat untuk mengakui status para tetua sebagai pemimpin dan apanutan bagi generasi muda kita.

Sebagai penghargaan pada Pekan NAIDOC ini, Kedutaan Besar Australia pada Jumat 10 Juli akan mengadakan sebuah presentasi dan pemutaran film mengenai penduduk asli Australia untuk sekelompok mahasiswa pasca-sarjana. Pada Januari tahun ini, Kedutaan Besar Australia juga mengadakan sebuah festival kebudayaan penduduk asli Australia dengan judul Dreaming Stories. Festival ini menayangkan film-film penduduk asli Australia yang telah memenangkan berbagai penghargaan dan kami juga mengadakan pameran seni kontemporer Aborigin dengan judul BALGO, yang berasal dari Balgo Hills, sebuah daerah terpencil di Australia Barat.

Pekan NAIDOC juga memperingati permintaan maaf resmi yang bersejarah dari Perdana Menteri Australia Kevin Rudd pada Februari tahun lalu kepada penduduk asli Australia. Walaupun permintaan maaf ini diberikan kepada seluruh penduduk asli Australia, namun terutama ditujukan kepada mereka yang apda masa kanak-kanak dipindahkan dengan paksa dari keluarga mereka dengan menggunakan peraturan dan kebijakan pemerintah sebelumnya (yang lebih dikenal dengan “Generasi yang Hilang”).

Permintaan maaf nasional tersebut adalah sebuah tindakan rekonsiliasi dan penyembuhan nasional yang sangat kuat. Pemerintah Australia berkomitmen untuk mendirikan sebuah pertalian dan kemitraan yang sejati dan terus-menerus dengan masyarakat penduduk asli. Permintaan maaf ini telah membantu menjadi awal terbangunnya rasa saling percaya dan niat baik.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai Pekan NAIDOC 2009 dapat mengunjungi http://www.naidoc.org.au/MAIDOC-about/naidoc.aspx

(Siaran Media Kedutaan Besar Australia Jakarta, July 6, 2009)

Read more...

Australia Penjarakan 11 Orang Penyelundup Manusia

>> Rabu, 01 Juli 2009

Menteri Dalam negeri Australia, Brendan O’Connor, dan Menteri Imigrasi dan Kewarganegaraan, Senator Chris Evans, tanggal 1 Juli 2009 menyambut baik dipenjarakannya 11 kapten dan awak kapal Indonesia yang baru-baru ini terlibat dalam kegiatan penyelundupan manusia dengan harapan hal ini mengirimkan pesan kuat bahwa Australia tidak akan membiarkan kejahatan seperti itu.

O’Connor mengatakan sebanyak 56 tahun 6 bulan penjara telah diberikan oleh Pengadilan Negeri Australia Barat kepada 11 orang pria yang terlibat dalam empat usaha berbeda untuk menyelundupkan 147 orang ke Australia antara 6 Desember 2008 dan 14 Maret 2009 yang memperkuat pesan bahwa mereka yang ditemukan bersalah telah menyelundupkan manusia menghadapi hukuman berat.

Tiga orang mengaku bersalah te;ah menyelundupkan 44 orang setelah kapal mereka tertangkap oleh Angkatan Laut Australia di sebelah utara Broome, Australia Barat, pada 6 Desember 2008. Achmad Mukhlis, Hamiruddin, dan Samsir Ali Topan mendapat hukuman lima tahun penjara.

Tiga orang lainnya mengaku bersalah telah menyelundupkan 34 orang setelah kapal mereka tertangkap oleh AL Australia di timur laut Darwin pada 16 Desember 2008 lalu. Yan Tonce, Arman, dan Arsil masing-masing dihukum lima tahun penjara.

Tiga orang lagi mengaku bersalah menyelundupkan 17 orang setelah kapal mereka tertangkap oleh AL Australia di sebelah utara Pulau Ashmore pada 17 Januari 2009. tasri Laode, Mimu, dan Adi Haidar masing-masing mendapat hukuman penjara lima tahun dan enam bulan.

Dua orang lagi mengaku bersalah menyelundupkan 52 orang setelah kapal mereka tertangkap oleh AL Australia di lepas Semenanjung Coburg, timur laut Darwin pada 14 Maret 2009. Soltan Ele dan Junaidi keduanya dihukum lima tahun penjara.

(Left: Menteri Dalam Negeri Australia, Brendan O'Connor)

Pemberian hukuman hari ini menambah jumlah penyelundup manusia yang dijatuhi hukuman oleh pengadilan Australia dalam empat bulan terakhir menjadi 14 orang. Pada April 2009, dua orang pria mendapat hukuman penjara lima tahun dan enam tahun karena usahanya menyelundupkan 26 orang ke Australia dalam dua kasus berbeda pada Oktober dan November 2008. Satu orang lagi sedang menjalani hukuman enam tahun penjara karena mencoba menyelundupkan 14 orang ke Australia pada September 2008.

Para menteri ini juga menyambut baik pemberian hukuman kepada warga Sydney berusia 35 tahun yang dihadapkan ke pengadilan setelah ditangkap oleh Polisi Federal Australia (Australian Federal Police - AFP) atas tuduhan memfasilitasi kegiatan penyelundupan manusia. Ia juga diduga membantu mereka yang tiba dalam suatu usaha yang tertangkap oleh AL Australia di dekat Pulau Christmas pada 28 Juni 2009 bersama 193 orang penumpang kapal.

“Penyelundupan manusia adalah suatu kejahatan yang mengekspliotasi mereka yang rentan dalam keadaan putus asa dan menunjukkan ketidakpedulian kepada Undang-undang,” kata O’Connor.

“Pemerintah Australia terus melakukkan patroli secara luas di kawasan kami melalui Komando Perlindungan Perbatasan dan para penyelenggara, kapten, dana wak kapal usaha penyelundupan manusia menghadapu hukuman penjara yang berat bila tertangkap dan ditemukan bersalah,” kata O’Connor lagi.

Hukuman maksimum bagi pelanggaran akibat menyelenggarakan usaha menyelundupkan lima atau lebih warga asing ke Australia yang bertentangan dengan Pasal 232A Undang-undang Imigrasi Australia 1958 adalah 20 tahun penjara.

Senator Evans mengatakan pemerintah Australia akan terus bekerjasama dengan mitra kawasan untuk menanggulangi masalah-masalah yang menyangkut migrasi tidak teratur dan para penyelundup manusia. “Pemerintah Australia telah memperbaharui upaya untuk bekerjasama lebih erat dengan negara-negara di kawasan termasuk Indonesia, Malaysia, dan Thailand untuk menghalangi dan mencegah orang agar tidak mencoba masuk ke Australia secara tidak sah,” ujar Senator Evans.

“Pemerintah Rudd (Perdana Menteri Australia – Kevin Rudd) juga secara terus menerus telah menegaskan komitmennya untuk mempertahankan sistem yang mengharuskan penahanan dan pengecualian daerah khusus,” jelas Evans.


(Siaran Media Kedutaan Besar Australia, July 1, 2009)

Read more...

Visa Kerja dan Liburan Baru Bagi Pemuda Indonesia dan Australia

Terhitung mulai 1 Juli 2009, pemuda Indonesia dan Australia dapat mengajukan visa kerja dan liburan yang baru, yang memungkinkan untuk tinggal dalam waktu yang cukup lama di negara mitra yang dibarengi dengan kesempatan kerja jangka pendek.

Visa baru ini memungkinkan pengunjung Indonesia dan Australia yang berpendidikan universitas berusia antara 18-30 tahun untuk bekerja dan berlibur di negeri mitra hingga 12 bulan.

"Saya gembira bahwa visa baru ini kini telah tersedia," kata Duta Besar Australia untuk Indonesia Bill Farmer. "Program visa kerja dan liburan ini dirancang untuk mendorong pertukaran kebudayaan dan hubungan yang lebih erat antar pemuda dari Australia dan Indonesia yang menjadi sasaran kunci kedua pemerintah," katanya.

Visa baru ini sebagai tindak lanjut penandatanganan pengaturan visa kerja dan liburan oleh Senator Chris Evans, Menteri Imigrasi dan Kewarganegaraan Australia, dan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia RI, Andi Matalatta, di Jakarta 3 Maret 2009.

Pada tahun pertama program ini, seratus pemuda Indonesia dan Australia akan berhak untuk menerima visa kerja dan liburan.

Pemohon visa dari Indonesia untuk program ini memerlukan dukungan dari Direktur Jenderal Imigrasi, memiliki gelar sarjana atau telah menyelesaikan dua tahun kuliah di universitas dan dapat berbicara bahasa Inggris dengan baik. Pemohon juga harus memenuhi persyaratan kesehatan. Kriteria serupa juga berlaku untuk pemuda Australia yang ingin mengambil kesempatan untuk bekerja dan belajar di Indonesia.

Pemegang visa kerja dan liburan ini diperkenankan untuk bekerja hingga enam bulan dengan seorang majikan dan mengambil studi atau pelatihan hingga empat bulan.

Informasi lebih lanjut mengenai program visa kerja dan liburan dapat diperoleh di http://www.indonesia.embassy.gov.au/jakt/Checklist_WHol.html


(Siaran Media Kedutaan Besar Australia Jakarta, July 1, 2009)



Read more...

Australia dan Indonesia Dukung Youth Socialization Road Show

>> Selasa, 30 Juni 2009

Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Australia akan bersama-sama mendukung Youth Socialization Road Show untuk memberikan pendidikan kepada pemilih mengenai pemilihan umum (presidential election - pemilu) presiden yang akan datang.

Dalam road show ini akan dilaksanakan acara kuis untuk menguji pengetahuan mengenai pemilu serta berbagai macam kompetisi seperti lomba penulisan cerita pendek (short story) dan lomba cipta jingle pemilu, kartun, dan foto. Sebuah talk show dengan topik pemilu televisi. Dengan dukungan bantuan dari pemerintah Australia, program sosialisasi pemilu ini dilaksanakan oleh KPU bersama-sama dengan Komisi Pemilihan Umum Provinsi dan International Foundation for Electoral Systems (IFES) di enam kota yang mencakup Denpasar, Ambon, Mataram, Jayapura, Makassar, dan Kupang.

Anggota KPU Bidang Sosialisasi Pemilu, Endang Sulastri mengatakan road show ini bertujuan untuk memberikan pendidikan kepada kaum muda mengenai cara memilih dan pilihan yang mereka miliki di pemilu presiden (presidential election) yang akan datang.

"Kami menyambut kemitraan dari Australia dalam membantu mendidik pemilih untuk pemilu presiden yang akan datang," kata Endang. "Kami mendorong semua pihak, khususnya generasi muda, untuk menggunakan hak pilih mereka," katanya lagi.

Duta Besar Australia untuk Indonesia, Bill Farmer mengatakan bahwa road show ini menunjukkan komitmen kedua negara dalam bermitra untuk memperkuat pendidikan kepada pemilih.

"Kemitraan Australia Indonesia bertujuan untuk mendukung pemilu yang sukses di Indonesia," kata Farmer. "mencoba menjangkau pemilih dari generasi muda untuk mau berpartisipasi secara aktif di pemilu merupakan hal penting mengingat peran generasi muda dalam memperkuat sistem demokrasi Indonesia," jelasnya.

Australia membantu Indonesia dalam mempersiapkan dan melaksanakan pemilu 2009 dengan memperkuat manajemen elektoral dan meningkatkan program pendidikan pemilih.

Australia membantu KPU dalam menggabungkan bahan pelatihan untuk para petugas pemilu, memberikan bimbingan teknis ke KPU dan Badan pengawas Pemilu (Bawaslu) mendukung restrukturisasi dari sekretariat jenderal KPU, dan bekerjasama dengan KPU untuk mengembangkan bahan-bahan pendidikan bagi pemilih.

Bantuan diberikan melalui program UNDP, Multi Donor - Support to Indonesia's Democratic Elections, Australian Electoral Commission, Kemitraan bagi Pembaruan Tata Pemerintahan di Indonesia (KEMITRAAN) dan IFES.

Acara talk show dan kuis akan disiarkan di RRI, TVRI, dan jaringan televisi lokal di seluruh Indonesia pada bulan Juni, menjelang pemilu presiden / presidential election yang dilaksanakan pada 8 Juli 2009.


(Siaran media Australian Indonesia Partnership - Kemitraan Australia Indonesia, June 29, 2009)

Read more...

Australia Tingkatkan Dukungan Perdagangan di Negara-negara Berkembang

>> Minggu, 28 Juni 2009

Australia akan melipatgandakan bantuan perdagangan kepada negara-negara berkembang melalui Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization - WTO), Australian Minister for Trade / Menteri Perdagangan Australia, Simon Crean, dan Sekretaris Parlemen untuk Bantuan Pembangunan Internasional, Bob McMullan mengumumkan pertengahan bulan Juni 2009.

Tahun 2009, Pemerintah Australia akan memberi WTO A$2,5 juta untuk kegiatan-kegiatan bantuan pembanghunan, meningkat dari A$1 juta tahun lalu.

Dana Perwalian Global Agenda Pembangunan Doha WTO akan menerima A$1,75 juta, meningkat dari A$1 juta tahun lalu dan A$500,000 tahun sebelumnya. Dana Perwalian Global memberi bantuan praktis kepada beberapa negara paling terbelakang di dunia, yang memungkinkan mereka untuk ambil bagian dalam, dan memperoleh manfaat dari perundingan perdagangan multilateral Putaran Doha WTO.

"Australia bertekad kuat untuk merampungkan dengan tuntas perundingan Doha sesegera mungkin, seperti yang disorot di Pertemuan Tingkat Menteri Kelompok Cairns di Bali awal bulan Juni," kata Crean.

"Anggota WTO terus bertambah dan secara mendasar sesuai dengan kepentingan kita untuk memperkukuh strukturnya yang unik sebagai organisasi berlandaskan aturan yang kuat dan efektif," tambah Crean.

"Bukti pengakuan terhadap nilai upaya kita adalah banyak negara terus ingin bergabung dengan WTO. Ini juga menggarisbawahi pentingnya mengamankan kemajuan pada putaran perundingan perdagangan dunia yang sedang berjalan," lanjut Crean.

"Penyediaan dana ini akan membantu negara-negara berkembang menjadi peserta yang aktif dalam, dan memetik manfaat penuh dari sistem perdagangan multilateral dan ekonomi global," kata McMullan.

Perdagangan terbuka adalah syarat mutlak pemulihan ekonomi dan kemakmuran global di masa depan. Oleh karena itu adalah lebih penting lagi selama resesi global untuk memastikan penyelesaian dengan tuntas Putaran Doha dan untuk mendukung perdagangan internasional.

Adalah penting juga bahwa dunia melawan kecenderungan proteksionisme dan menjaga pasar supaya terbuka untuk perdagangan dan keuangan. Para pemimpin dunia menyatakan tekad mereka menuntaskan gagasan ini pada akhir pertemuan puncak G-20 di London.

Selain peningkatan dukungan terhadap Dana Perwalian Global, Pemerintah Australia akan memberi dana sebesar A$750.000 kepada fasilitas pengembangan standar dan perdagangan WTO. Fasilitas ini akan membantu mendingkrak perdagangan internasional dengan memberi bantuan kepada negara-negara berkembang untuk menganalisa dan menerapkan standar internasional pada keamanan pangan dan kesehatan hewan dan tumbuhan.

McMullan menambahkan, "sumbangan ini akan mendorong WTO untuk bekerja lebih erat lagi dengan para mitra pembangunan kami di Asia dan secara khusus Kepulauan Pasifik yang menghadapi tantangan unik karena kecilnya dan keterpencilan mereka dari pasar global."


(Siaran Media Menteri Perdagangan - Simon Crean, Sekretaris Parlemen untuk Bantuan Pembangunan Internasional - Bob McMullan, June 22nd, 2009)

Read more...

Wisatawan ke Australia Disarankan untuk Mempersiapkan Diri Jauh Hari

>> Rabu, 24 Juni 2009

Warga negara Indonesia yang berencana untuk berlibur ke Australia dalam beberapa bulan mendatang harus mengajukan permohonan visa mereka sesegera mungkin untuk menghindari penundaan.

Kedutaan Besar Australia memproses lebih dari 62.000 visa kunjungan bagi warga Indonesia yang berencana untuk berlibur atau melakukan kunjungan singkat ke Australia. Khususnya selama libur sekolah atau lebaran terjadi peningkatan tajam jumlah permohonan visa yang diterima oleh Kedubes Australia. Kedubes Australia di Jakarta merupakan salah satu Kedubes Australia di dunia yang mengeluarkan visa turis terbanyak.

Walaupun Kedubes Australia berupaya untuk menyelesaikan permohonan visa kurang dari 5 hari, selama libur sekolah pemohon visa disarankan untuk membuat perencanaan jauh-jauh hari dan mengajukan permohonan visa sesegara mungkin untuk menghindari segala kemungkinan keterlambatan.

“Bila pengunjung Indonesia mengajukan permohonan visa sekarang, kami akan dapat memproses sebagian besar dari permohonan tersebut kurang dari lima hari kerja. Ketika permohonan berlipat ganda pada minggu-minggu mendatang, pengurusan visa mungkin membutuhkan waktu yang lebih panjang lagi,” tutur Duta Besar Australia Bill Farmer.

Kedutaan Besar Australia saat ini memberikan lebih banyak lagi visa berjangka panjang kepada pengunjung, yang memungkinkan mereka untuk berkunjung sesering yang mereka inginkan untuk jangka waktu yang lebih panjang setelah visanya diterbitkan.

Penyesuaian rutin biaya permohonan visa diterapkan mulai 1 Juli. Biaya permohonan untuk visa kunjungan (turis) akan naik menjadi Rp 880.000, dari biaya sekarang Rp 790.000 mulai 1 Juli 2009. Biaya untuk visa-visa lainnya dapat dilihat di situs web Kedubes Australia: www.indonesia.embassy.gov.au.

Permohonan visa dapat diajukan pada Senin hingga Jum’at pukul 8.30 – 16.00 di Pusat Permohoan Visa Australia (Australian Visa Application Centre atau AVAC), Lantan 22, Plaza Asia, Jl Jend Sudirman Kav 59, Jakarta (seberang Sudirman Place Shopping Mall), atau di Bali, Perkantoran Duta Wijaya Unit 12, Jl Raya Puputan, Renon, Denpasar. Kantor AVAC akan tutup pukul 12.00 pada 30 Juni 2009 untuk inventarisasi tahunan dan tidak akan menerima permohonan visa setelah tengah hari. Kedutaan Besar dan Konsulat-Jenderal Bali akan membantu pemohon yang memerlukan pelayanan mendesak.

Guna menghindari desakan dan antrian di AVAC, pemohon juga dapat memilih untuk memanfaatkan jasa kurir dan melakukan permohonan visa dari rumah – silakan hubungi 5140 1590-91 (Jakarta) atau (0361) 264 958 (Bali) untuk memperoleh layanan ini.


Siaran Media Kedutaan Besar Australia, 24 Juni 2009.

Read more...

  © Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP